Dalam renungan kerap
diriku merasa sungguh dunia seakan tak adil. Seperti tanpa perbedaan antara
siang dan malam, hari berganti hari rasanya sama dalam terpaan badai. Tapi
dalam ganasnya badai, aku menempati sebuah perahu yang luar biasa tangguh dalam
menghadapi kekejaman lautan, melawan serangan badai hingga mengantarkanku
ketempat yang lebih indah. Begitulah sosok ibu dimataku.
Tak terasa waktu ini berlalu, setiap detiknya beliau habiskan
demi kebahagiaanku. Guratan diwajah itu adalah tanda, yang setiap garisnya
terwujud demi senyuman anak-anak tercinta. Ingin rasanya aku mengurangi guratan yang
terlihat menyiksa itu.
Kau
mencintaiku...
Seperti
bumi mencintai titah tuhannya...
Tak
pernah letih menanggung beban derita...
Tak
pernah lelah menghisap luka...
(kutipan puisi novel KCB
II)