Dalam renungan kerap
diriku merasa sungguh dunia seakan tak adil. Seperti tanpa perbedaan antara
siang dan malam, hari berganti hari rasanya sama dalam terpaan badai. Tapi
dalam ganasnya badai, aku menempati sebuah perahu yang luar biasa tangguh dalam
menghadapi kekejaman lautan, melawan serangan badai hingga mengantarkanku
ketempat yang lebih indah. Begitulah sosok ibu dimataku.
Tak terasa waktu ini berlalu, setiap detiknya beliau habiskan
demi kebahagiaanku. Guratan diwajah itu adalah tanda, yang setiap garisnya
terwujud demi senyuman anak-anak tercinta. Ingin rasanya aku mengurangi guratan yang
terlihat menyiksa itu.
Kau
mencintaiku...
Seperti
bumi mencintai titah tuhannya...
Tak
pernah letih menanggung beban derita...
Tak
pernah lelah menghisap luka...
Ibu...
Terimakasih
karena dirimu telah menjadi madrasah pertamaku sehingga aku adalah aku yang
sekarang berkat didikanmu.
Terimakasih
karena dirimu telah menjadi perahu yang sangat nyaman sehingga aku telah diantarkan ketempat yang indah.
Terimakasih
karena do’amu yang berkah itu sehingga harapanku dikabulkan oleh-Nya.
Ibu...
Jangan
larang aku untuk membalas kebaikanmu karena aku sungguh takut, takut aku tak
bisa membalas segala bentuk kebaikanmu itu sebelum akhirnya Allah memanggil
salah satu diantara kita.
Wahai kekasinya Allah, siapakah di dunia ini yang wajib kita
cintai? “Ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu”. Bukan berarti aku mengesampingkan
ayah tapi karena perjuangan seorang perempuan, seorang ibu lebih berat daripada
yang terlihat. Bahkan sang pencipta pun
menyatakan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu. Sungguh betapa mulianya
seorang ibu dimata –Nya.
Maka
aku kian mantap dan tak ragu
ingin memuliakan beliau meskipun dua kali lipat, tiga kali lipat dan mungkin
berkali-kali lipat kebaikannya kubalas takkan cukup membayar pengorbanan yang beliau
berikan.^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar