Minggu, 26 Mei 2013

UNTUKMU IBU


Dalam  renungan kerap diriku merasa sungguh dunia seakan tak adil. Seperti tanpa perbedaan antara siang dan malam, hari berganti hari rasanya sama dalam terpaan badai. Tapi dalam ganasnya badai, aku menempati sebuah perahu yang luar biasa tangguh dalam menghadapi kekejaman lautan, melawan serangan badai hingga mengantarkanku ketempat yang lebih indah. Begitulah sosok ibu dimataku.
Tak terasa waktu ini berlalu, setiap detiknya beliau habiskan demi kebahagiaanku. Guratan diwajah itu adalah tanda, yang setiap garisnya terwujud demi senyuman anak-anak tercinta.  Ingin rasanya aku mengurangi guratan yang terlihat menyiksa itu.
          Kau mencintaiku...
          Seperti bumi mencintai titah tuhannya...
          Tak pernah letih menanggung beban derita...
          Tak pernah lelah menghisap luka...
(kutipan puisi novel KCB II)
Ibu...
Terimakasih karena dirimu telah menjadi madrasah pertamaku sehingga aku adalah aku yang sekarang berkat didikanmu.
Terimakasih karena dirimu telah menjadi perahu yang sangat nyaman sehingga  aku telah diantarkan ketempat yang indah.
Terimakasih karena do’amu yang berkah itu sehingga harapanku dikabulkan oleh-Nya.
Ibu...
Jangan larang aku untuk membalas kebaikanmu karena aku sungguh takut, takut aku tak bisa membalas segala bentuk kebaikanmu itu sebelum akhirnya Allah memanggil salah satu diantara kita.
Wahai kekasinya Allah, siapakah di dunia ini yang wajib kita cintai? “Ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu”. Bukan berarti aku mengesampingkan ayah tapi karena perjuangan seorang perempuan, seorang ibu lebih berat daripada yang terlihat. Bahkan sang pencipta pun menyatakan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu. Sungguh betapa mulianya seorang ibu dimata –Nya.
Maka aku kian mantap dan tak ragu ingin memuliakan beliau meskipun dua kali lipat, tiga kali lipat dan mungkin berkali-kali lipat kebaikannya kubalas takkan  cukup membayar pengorbanan yang beliau berikan.^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar