Selasa, 20 Mei 2014

Surat Untuk Ayah


Assalmu’alaikum Wr Wb

Salam anakmu tercinta,
Ayah, baru saja ingin ku tulis kata-kataku pada kertas yang putih ini, tapi rasanya air  mata ini telah jatuh mendahului.

Bukaaan . aku sungguh tak ingin merusak hari yang harusnya bahagia ini.

“Aidiil milaaad ya abi”
Selamat bertemu kelahiran, mudah-mudah ayah selalu ada dalam ridho-Nya. 
InsyaAllah anakmu tercinta ini akan selalu berdoa untuk mu. Akan selalu patuh padamu, berada dalam ridho-Nya.


Alhamdulillah sampai hari ini kita masih diizinkan menikmati indahnya dunia, aku ingin selalu berbakti padamu, setelah aku berbakti pada ibu. Aku sangat ingin menjadi anak tercinta mu karena aku sangat takut kehilangan senyuman yang menghiasi wajah kelelahan itu.

Ayah, maafkan anak mu jika selama ini dia selalu menyusahkan mu, selalu membebanimu, selalu membuatmu khawatir, dan belum berbakti padamu.
Aku bukanlah seorang anak yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi anak yang lebih baik lagi dari kemarin.

Aku sangat ragu apakah aku mampu menyampaikan suara hati ini padamu. Dan terbukti memang benar, aku sangat tak berguna. Bahkan untuk hal-hal penting seperti ini. Sebenarnya aku lebih bingung lagi cara menyampaikan hal ini, dan keputusan terakhirku untuk menulisnya dalam blog ku. Maafkan atas sikapku yang sepert ini, atas penjara yang kuciptakan ini yang sangat menyulitkan ku akhirnya.

Maaf, karena anakmu ini belum mampu memberikan kebahagiaan dalam hidupmu. Maaf kan ditahun-tahun lalu tak pernah mengingatnya, karena memang anakmu tak tahu.
Aku ingin melanjutkan kata-kataku tapi airmata ini tak hentinya membasahi kertas putih ini.
Maaf , aku tak sering berucap bahkan untuk hal terpenting. Saat ini aku hanya mampu berkata lewat tulisan. Tangan begitu indah menari-nari diatas kertas ini. Mengungkapkan apa yang fikiran ingin katakan.

Terimakasih telah mennjadi ayah terbaik dalam hidup ku. Terimakasih atas cinta yang kau berikan  pada anakmu yang tak berdaya ini. Satu kata yang ku harap mampu ku ucap dalam lisan ini ,

“Sungguh aku mencintai Ayah karena Allah“

Mungkin tulisan ini berhenti disini, tapi semua ucapan yang ingin ku ucap masih berkeliaran dalam fikiran dan hati ini. Dan percayalah, dalam setiap do’aku selalu kusebut namamu.

Mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini suatu hari nanti,
mampu menghilangkan guratan lelah itu,
bisa menarik singgung senyuman dari wajahmu,
bisa sedikit melegakan perasaan sedihmu,
meskipun itu sedikit tapi aku bahagia.

Salam anakmu tercinta,

Ulfah Hasanah Nurfadilah
Nama yang indah,
Terimakasih atas nama indah ini, maknanya pun indah
“cahaya utama kebaikan, yang dicinta“

“Karena Nama ini Adalah Do‘amu“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar