Salam anakmu tercinta,
Ayah, baru saja ingin ku tulis kata-kataku pada kertas yang
putih ini, tapi rasanya air mata ini
telah jatuh mendahului.
Bukaaan . aku sungguh tak ingin merusak hari yang harusnya
bahagia ini.
“Aidiil milaaad ya abi”
Selamat bertemu kelahiran, mudah-mudah ayah selalu ada dalam
ridho-Nya.
InsyaAllah anakmu tercinta ini akan selalu berdoa untuk mu. Akan selalu
patuh padamu, berada dalam ridho-Nya.
Alhamdulillah sampai hari ini kita masih diizinkan menikmati
indahnya dunia, aku ingin selalu berbakti padamu, setelah aku berbakti pada
ibu. Aku sangat ingin menjadi anak tercinta mu karena aku sangat takut
kehilangan senyuman yang menghiasi wajah kelelahan itu.
Ayah, maafkan anak mu jika selama ini dia selalu menyusahkan
mu, selalu membebanimu, selalu membuatmu khawatir, dan belum berbakti padamu.
Aku bukanlah seorang anak yang sempurna, tapi aku akan
berusaha menjadi anak yang lebih baik lagi dari kemarin.
Aku sangat ragu apakah aku mampu menyampaikan suara hati ini
padamu. Dan terbukti memang
benar, aku sangat tak berguna. Bahkan untuk hal-hal penting seperti ini. Sebenarnya
aku lebih bingung lagi cara menyampaikan hal ini, dan keputusan terakhirku
untuk menulisnya dalam blog ku. Maafkan atas sikapku yang sepert ini, atas
penjara yang kuciptakan ini yang sangat menyulitkan ku akhirnya.
Maaf,
karena anakmu ini belum mampu memberikan kebahagiaan dalam hidupmu. Maaf kan
ditahun-tahun lalu tak pernah mengingatnya, karena memang anakmu tak tahu.
Aku ingin
melanjutkan kata-kataku tapi airmata ini tak hentinya membasahi kertas putih
ini.
Maaf , aku
tak sering berucap bahkan untuk hal terpenting. Saat ini aku hanya mampu
berkata lewat tulisan. Tangan begitu indah menari-nari diatas kertas ini. Mengungkapkan
apa yang fikiran ingin katakan.
Terimakasih
telah mennjadi ayah terbaik dalam hidup ku. Terimakasih atas cinta yang kau
berikan pada anakmu yang tak berdaya
ini. Satu kata yang ku harap mampu ku ucap dalam lisan ini ,
“Sungguh
aku mencintai Ayah karena Allah“
Mungkin tulisan
ini berhenti disini, tapi semua ucapan yang ingin ku ucap masih berkeliaran
dalam fikiran dan hati ini. Dan percayalah, dalam setiap do’aku selalu kusebut
namamu.
Mudah-mudahan
dengan membaca tulisan ini suatu hari nanti,
mampu
menghilangkan guratan lelah itu,
bisa
menarik singgung senyuman dari wajahmu,
bisa
sedikit melegakan perasaan sedihmu,
meskipun
itu sedikit tapi aku bahagia.
Salam anakmu
tercinta,
Ulfah
Hasanah Nurfadilah
Nama yang
indah,
Terimakasih
atas nama indah ini, maknanya pun indah
“cahaya utama kebaikan, yang dicinta“
“Karena Nama ini Adalah Do‘amu“

Tidak ada komentar:
Posting Komentar