Sabtu, 31 Januari 2015

My Special Date In 26 august 2014

Kisah yang mengharukan, membingungkan dan membahagiakan.   
Goresan ini diharapkan akan mengenang kejadian indah pada tanggal 26 agustus. Dan ketika suatu saat nanti penulis lupa, ketika membaca kembali ia akan ingat kejadian kecil penuh arti yang pernah terjadi di kehidupan ini.

Pertama, pikiranku sangat kosong karena tidak ada satu orang pun yang berkata “aidil milad”, hanya satu yang memberiku kata indah seperti itu, adalah rifqa permana putri. Dia orang pertama yang berkata “Aidil milad” pada waktu 00.30 wib, orang pertama yang mengatakan hal ini pada tengah malam. Dan aku mengerti alasan dibalik semua ini adalah kami sedang sibuk dengan UAS, dan persiapan persentasi untuk nilai UAS pada mata kuliah Java.

Merasa stress karena presentasi itu di hari spesialku dan tidak ada seorang pun yang mengingatnya. Aku merasa ada masalah dalam diriku ketika aku berfikir seperti itu. Untuk berfikir bahwa tidak ada yang mengingatnya.

Setelah kelompok kami melewati presentsi dan kami telah mendapatkan nilai UAS. Aku sangat senang tapi perasaan ku tidak merasa baikan karena ada masalah dalam fikiranku.

Aku mendekati ica dan yesi dan mereka seperti menghindariku padahal tak ada satu orang pun yang bisa aku ajak bicara. Aku bertanya kalian hendak pergi, kemana? Mereka menjawab kircon. Lalu memangnya adaapa? Lalu di jawab dengan “dasarkepo”… betapa aku sebenarnya juga tak terlalu ingin tahu, tapi mendengar jawaban mereka aku menangis dalam diam.

Dan saat restia dan rifka mendekat, mereka berkata bahwa mereka akan menemui dosen pembingbing, untuk bimbingan pkl, tinggal rifqa dan sepertinya aku sudah dapat menebak bahwa dia akan pergi bersama yesi karena tak ada perasaan bahwa dia akan menemaniku. 

Lalu aku pergi dengan inisiatif ku sendiri, aku berkata kepada mereka yang hendak pergi, bahwa aku akan melaksanakan sholat dzuhur di mushola kampus. Dan menghilang secepat kilat. Tanpa ada yang menemani. Kembali terdiam dalam kesendirian.. hatiku kembali menangis. Mungkin lebih baik aku segera pulang.

Setelah melaksanakan sholat, aku meratapi betapa kasihannya diriku,,,, satu kali sempat aku berfikir bahwa suasana diam ini adalah strategi mereka untukku, untuk sebuah kejutan yang mereka siapkan untukku. Tapi segera aku menepis hayalan yang kekanakaan itu.. dan aku kembali menangis..

Sampai rifqa datang dan berkata bahwa mereka menunggu ku. Aku kan sudah menjelaskan bahwa aku akan pulang. Lalu rifqa menemani dan melaksanakan sholat di mushola. Aku menunggunya. Dan  akan pergi kerumah resti bersama.

Setelah menunggu dia selesai sholat, kami berangkat kerumah restia. Welll ..... restia  belum tiba dirumah, kamipun harus menunggu hingga dia datang. Setelah itu rifqa mencoba menelpon restia untuk bertanya dimanakah posisinya berada. Akhirnya tersambung, dan dia berkata bahwa sebentar lagi akan sampai dirumah, begitu kata rifqa. 

“Aduuh, budak batur meni karunya!“ Begitu sapa restia ketika ia tiba dirumah. Kami menunggu dengan bosan untunglah tidak terlalu lama waktu yang kami butuhkan sampai pemilik rumah datang. Restia datang bersama rifka, tapi sesampainya di rumah restia, rifka malah pergi dan berkata akan membeli sesuatu. Didalam rumah aku dan rifqa sibuk memamerkan diri dengan rambut baru kami yang super  cool itu.. kami tertawa bersama.
 
Tiba-tiba pintu terbuka dan ada suara cekikkikan dari luar, ternyata ica, yesi dan rifka datang membawa kotak terisi makanan kesukaanku dengan nyala lilin diatasnya... 

“aidilmilad ulfah“ serempak mereka bicara. Sungguh hatiku tak bisa lagi menahan tangis dan tawa, aku menangis, aku bahagia. Mereka benar-benar mempersiapkan nya untukku. Aku terharu dibuatnya. Kalian menyebalkan, pantas mengapa hari ini begitu sepi tanpa adanya ucapan milad dari kalian.

Tapi semua kesedihan yang kurasakan disiang hari sudah sirna sekejap mata oleh keberadaan lilin-lilin itu. Bukan maksud nya mereka merayakan hari spesial ini, ini bukan alasanku. Alasan sebenarnya adalah karena mereka semua ingat hari dimana ibuku berjuang untukku, bertahan menjagaku dalam perutnya, membawaku kemanapun meski aku terasa berat. Hari di aku dilahirkan. Hari dimana banyak senyuman kebahagiaan terpancar setelah menunggu sekian lama.

Jazakumullah khoiran katsiran buat semuanya. Hanya ini yang mampu aku ucapkan. Kalian adalah anugrah terindah yang pernah kumiliki, di dalam goresan takdir hidupku.

Dan akhirnya aku pulang kerumah dengan perasaan bahagia dan wajah berseri-seri.
*end
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar