Kisah yang
mengharukan, membingungkan dan membahagiakan.
Goresan ini
diharapkan akan mengenang kejadian indah pada tanggal 26 agustus. Dan ketika
suatu saat nanti penulis lupa, ketika membaca kembali ia akan ingat kejadian
kecil penuh arti yang pernah terjadi di kehidupan ini.
Pertama,
pikiranku sangat kosong karena tidak ada satu orang pun yang berkata “aidil
milad”, hanya satu yang memberiku kata indah seperti itu, adalah rifqa permana
putri. Dia orang pertama yang berkata “Aidil milad” pada waktu 00.30 wib, orang
pertama yang mengatakan hal ini pada tengah malam. Dan aku mengerti alasan
dibalik semua ini adalah kami sedang sibuk dengan UAS, dan persiapan persentasi
untuk nilai UAS pada mata kuliah Java.
Merasa stress
karena presentasi itu di hari spesialku dan tidak ada seorang pun yang
mengingatnya. Aku merasa ada masalah dalam diriku ketika aku berfikir seperti
itu. Untuk berfikir bahwa tidak ada yang mengingatnya.
Setelah kelompok
kami melewati presentsi dan kami telah mendapatkan nilai UAS. Aku sangat senang
tapi perasaan ku tidak merasa baikan karena ada masalah dalam fikiranku.
Aku mendekati ica
dan yesi dan mereka seperti menghindariku padahal tak ada satu orang pun yang
bisa aku ajak bicara. Aku bertanya kalian hendak pergi, kemana? Mereka menjawab
kircon. Lalu memangnya adaapa? Lalu di jawab dengan “dasarkepo”… betapa aku
sebenarnya juga tak terlalu ingin tahu, tapi mendengar jawaban mereka aku
menangis dalam diam.
Dan saat restia
dan rifka mendekat, mereka berkata bahwa mereka akan menemui dosen pembingbing,
untuk bimbingan pkl, tinggal rifqa dan sepertinya aku sudah dapat menebak bahwa
dia akan pergi bersama yesi karena tak ada perasaan bahwa dia akan
menemaniku.
Lalu aku pergi
dengan inisiatif ku sendiri, aku berkata kepada mereka yang hendak pergi, bahwa
aku akan melaksanakan sholat dzuhur di mushola kampus. Dan menghilang secepat
kilat. Tanpa ada yang menemani. Kembali terdiam dalam kesendirian.. hatiku
kembali menangis. Mungkin lebih baik aku segera pulang.
Setelah
melaksanakan sholat, aku meratapi betapa kasihannya diriku,,,, satu kali sempat
aku berfikir bahwa suasana diam ini adalah strategi mereka untukku, untuk
sebuah kejutan yang mereka siapkan untukku. Tapi segera aku menepis hayalan
yang kekanakaan itu.. dan aku kembali menangis..
Sampai rifqa datang dan berkata bahwa mereka menunggu
ku. Aku kan sudah menjelaskan bahwa aku akan pulang. Lalu rifqa menemani dan
melaksanakan sholat di mushola. Aku menunggunya. Dan akan pergi kerumah resti bersama.
Setelah menunggu dia selesai sholat, kami berangkat
kerumah restia. Welll ..... restia belum
tiba dirumah, kamipun harus menunggu hingga dia datang. Setelah itu rifqa
mencoba menelpon restia untuk bertanya dimanakah posisinya berada. Akhirnya
tersambung, dan dia berkata bahwa sebentar lagi akan sampai dirumah, begitu
kata rifqa.
“Aduuh, budak batur meni karunya!“ Begitu sapa restia
ketika ia tiba dirumah. Kami menunggu dengan bosan untunglah tidak terlalu lama
waktu yang kami butuhkan sampai pemilik rumah datang. Restia datang bersama
rifka, tapi sesampainya di rumah restia, rifka malah pergi dan berkata akan
membeli sesuatu.
Didalam rumah aku dan rifqa sibuk memamerkan diri dengan rambut baru kami yang
super cool itu.. kami tertawa bersama.
Tiba-tiba pintu terbuka dan ada suara cekikkikan dari
luar, ternyata ica, yesi dan rifka datang membawa kotak terisi makanan
kesukaanku dengan nyala lilin diatasnya...
“aidilmilad
ulfah“ serempak mereka bicara. Sungguh hatiku tak bisa lagi menahan tangis dan
tawa, aku menangis, aku bahagia. Mereka benar-benar mempersiapkan nya untukku.
Aku terharu dibuatnya. Kalian menyebalkan, pantas mengapa hari ini begitu sepi
tanpa adanya ucapan milad dari kalian.
Tapi semua
kesedihan yang kurasakan disiang hari sudah sirna sekejap mata oleh keberadaan
lilin-lilin itu. Bukan maksud nya mereka merayakan hari spesial ini, ini bukan
alasanku. Alasan sebenarnya adalah karena mereka semua ingat hari dimana ibuku
berjuang untukku, bertahan menjagaku dalam perutnya, membawaku kemanapun meski
aku terasa berat. Hari di aku dilahirkan. Hari dimana banyak senyuman
kebahagiaan terpancar setelah menunggu sekian lama.
Jazakumullah
khoiran katsiran buat semuanya. Hanya ini yang mampu aku ucapkan. Kalian adalah
anugrah terindah yang pernah kumiliki, di dalam goresan takdir hidupku.
Dan akhirnya aku pulang kerumah dengan perasaan
bahagia dan wajah berseri-seri.
*end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar