Hal yang seharusnya simple tapi di buat rumit, hal yang seharusnya rumit tambah rumit. Benarkah begitu???
Aku mengakui pada diriku seperti itu, meskipun sebenarnya dalam hal ini aku tak bisa menjudge semua sama.
Namun sebenarnya tergantung situasi dan kondisi, misalnya tentang cinta (bahas ini lagi) aku menyederhanakan cinta dengan sebuah rasa, bukan definisi karena ia menurutku tak terdefinisi.
Cukupkah sebongkah rasa saja? bagi ku hal yg sederhana ini sangat ku nikmati namun objek yg kita tuju apakah ia memiliki pendapat yg sama seperti cara pandangmu terhadapnya? Garis besar, blok capslock-an, bold-an semuanya yg membedakan dengan kata yang lain, cambukan bagi diri ku sebenarnya seperti ini, ketika logika berfikir tak mau melangkah lebih jauh, tuk menerapkan semua batasan itu. Namun tak bosan aku berkata bahwa kehendak tak mematuhi fikiran, ia berjalan ia berfikir dan ia melangkah sendiri tanpa kendali.
Haruskah pertanyaan terucap dari perempuan karena sekarang itu emansipasi wanita? Kepastian mereka harapkan namun perempuan tak memiliki daya sejauh itu di zaman modern saat ini karena pada dasarnya, hakekatnya perempuan hanya menanti, dan memberi jawaban.
Kehendak tak bisa dihentikan namun logika tak mengiya-kan, entah dia yang bodoh menunggu hal yang tak pasti, mendengarkan bualan, mengharap pada yang bukan pemilik harapan. Yang ia tau saat ini hanya membaca di kegelapan. Setidaknya bawalah sedikit cahaya untuknya, agar ia mampu melihat dengan benar dan menentukan langkah yang akan di lakukan.
Tak lupa selalu libatkan Dia pemberi langkah yang paling pasti agar engkau mengetahui sesuatu yang harusnya kamu ketahui.
Semoga yang sedang berada dalam penantian segera di beri jalan, cahaya, langkah yang lebih pasti, yang tentunya terbaik bagimu menurutNya.
Aku mengakui pada diriku seperti itu, meskipun sebenarnya dalam hal ini aku tak bisa menjudge semua sama.
Namun sebenarnya tergantung situasi dan kondisi, misalnya tentang cinta (bahas ini lagi) aku menyederhanakan cinta dengan sebuah rasa, bukan definisi karena ia menurutku tak terdefinisi.
Cukupkah sebongkah rasa saja? bagi ku hal yg sederhana ini sangat ku nikmati namun objek yg kita tuju apakah ia memiliki pendapat yg sama seperti cara pandangmu terhadapnya? Garis besar, blok capslock-an, bold-an semuanya yg membedakan dengan kata yang lain, cambukan bagi diri ku sebenarnya seperti ini, ketika logika berfikir tak mau melangkah lebih jauh, tuk menerapkan semua batasan itu. Namun tak bosan aku berkata bahwa kehendak tak mematuhi fikiran, ia berjalan ia berfikir dan ia melangkah sendiri tanpa kendali.
Haruskah pertanyaan terucap dari perempuan karena sekarang itu emansipasi wanita? Kepastian mereka harapkan namun perempuan tak memiliki daya sejauh itu di zaman modern saat ini karena pada dasarnya, hakekatnya perempuan hanya menanti, dan memberi jawaban.
Kehendak tak bisa dihentikan namun logika tak mengiya-kan, entah dia yang bodoh menunggu hal yang tak pasti, mendengarkan bualan, mengharap pada yang bukan pemilik harapan. Yang ia tau saat ini hanya membaca di kegelapan. Setidaknya bawalah sedikit cahaya untuknya, agar ia mampu melihat dengan benar dan menentukan langkah yang akan di lakukan.
Tak lupa selalu libatkan Dia pemberi langkah yang paling pasti agar engkau mengetahui sesuatu yang harusnya kamu ketahui.
Semoga yang sedang berada dalam penantian segera di beri jalan, cahaya, langkah yang lebih pasti, yang tentunya terbaik bagimu menurutNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar